Selamat Datang Di PTPNIX Persero
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) memiliki dua Divisi. Pertama, Divisi Tanaman Tahunan yang membudidayakan dan menghasilkan produk- produk dari tanaman karet, kopi, kakao, dan teh. Kedua, Divisi Tanaman Semusim (Pabrik Gula) yang menghasilkan produk-produk dari tanaman tebu.

PTP Nusantara IX (PERSERO)
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) memiliki dua Divisi. Pertama, Divisi Tanaman Tahunan yang membudidayakan dan menghasilkan produk- produk dari tanaman karet, kopi, kakao, dan teh. Kedua, Divisi Tanaman Semusim (Pabrik Gula) yang menghasilkan produk-produk dari tanaman tebu.

PTP Nusantara IX (PERSERO)
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) memiliki dua Divisi. Pertama, Divisi Tanaman Tahunan yang membudidayakan dan menghasilkan produk- produk dari tanaman karet, kopi, kakao, dan teh. Kedua, Divisi Tanaman Semusim (Pabrik Gula) yang menghasilkan produk-produk dari tanaman tebu.

PTP Nusantara IX (PERSERO)
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) memiliki dua Divisi. Pertama, Divisi Tanaman Tahunan yang membudidayakan dan menghasilkan produk- produk dari tanaman karet, kopi, kakao, dan teh. Kedua, Divisi Tanaman Semusim (Pabrik Gula) yang menghasilkan produk-produk dari tanaman tebu.

PTP Nusantara IX (PERSERO)
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) memiliki dua Divisi. Pertama, Divisi Tanaman Tahunan yang membudidayakan dan menghasilkan produk- produk dari tanaman karet, kopi, kakao, dan teh. Kedua, Divisi Tanaman Semusim (Pabrik Gula) yang menghasilkan produk-produk dari tanaman tebu.

PTP Nusantara IX (PERSERO)
PT Perkebunan Nusantara IX (Persero) memiliki dua Divisi. Pertama, Divisi Tanaman Tahunan yang membudidayakan dan menghasilkan produk- produk dari tanaman karet, kopi, kakao, dan teh. Kedua, Divisi Tanaman Semusim (Pabrik Gula) yang menghasilkan produk-produk dari tanaman tebu.

Deputi Menneg BUMN Agroindustri : Peran KPBN Ke Depan Lebih Luas dari Trading House
Oleh: Humas, pada: 2010-01-28

Ke depannya PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) akan dikembangkan menjadi lebih luas dari trading house, yakni akan menangani juga di bidang logistik dan trading. termasuk didalamnya juga menangani aspek aspek jasa usaha. Agus Pakpahan, Deputi Meneg Bidang BUMN Agroindustri, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan menyatakan kepada Business News, Senin (25/1)

Kendati perisahaan sudah mulai berjalan tahun ini, satu hal yang masíh perlu direvitalisasi itu apa saja, disini kita harus terbuka. Artinya terbuka untuk memilih siapa yang akan memimpin KPBN ini.

 

Mengapa demikian, karena kita ingin mempunyai perusahaan kelas dunia dalam bidang itu. Kalau dalam bidang mengolah kebun, kita sudah punya, sampai 100 rb ha, juga bisa, tetapi bagaimana kita mengawinkan antara bidang trading, logistik, jasa, dan finance, untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar, itu memerlukan jenis orang yang berbeda, bukan orang kebun lagi.

 

Artinya, disinilah kita harus terbuka, siapapun asal mampu, prinsip ini yang harus kita pakai dalam memimpin perusahaan nantinya. Itu yang saya katakan reformasi dalam alam pikiran, dalam pelaksanaannya nanti".

 

Sedang apakah nantinya dengan membuka cabang di Dubai, akan membuka cabang yang sama di negara lain, kelihatannya di Dubai, khusus untuk menggarap pemasaran teh, agar masuk ke pasar Timur Tengah.  Saat ini masih kita garap dulu di dalam secara internal, dimana untuk pengembangan seperti itu harus matang perencanaannya.

 

Untuk proses bisnis lainnya dalam kerjasama dengan swasta, misalnya paling tidak kita punya 3 juta ton CPO dari produksi PT. Perkebunan Nusantara (PTPN). Jadi bagaimana kita harus menangani, pada saat swasta punya kurang lebih 17 juta ton CPO.

 

Dengan total produki 20 juta ton CPO, maka ini akan dibicarakan juga dengan swasta, bagaimana strategi global kita. Jadi ketika ada wacana bagaimana PTPN bekerjasama dengan swasta, maka itu menjadi bagian dari proses bisnis. Untuk kelapa sawit, Indonesia sudah menjadi pemain terbesar dunia sekarang, kendati masih terbatas dalam arti produksi, belum dalam arti nilai tambah.

 

Misalnya, katakanlah salah satu yang ingin kita garap dengan swasta itu, adalah bagaimana membiayai riset untuk menyiapkan industri sawit tahun 2030. Termasuk didalamnya adalah industri apa yang kita kembangkan, misalnya untuk ke arah industri hilir.

 

Mengapa demikian, karena pengembangan industri hilir sawit itu perlu teknologi. Kalau research & development (R & D) kita tidak kuat, maka kita bisa seperti Nigeria. Jangan lupa tahun 1971 Nigeria itu masih eksportir terbesar CPO dunia, belakang lalu posisinya disalip Malaysia.

 

Sementara untuk penjualan 20% produk PTPN di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), merupakan bagian dari pengembangan pasar dari KPB dulu. Kementrian saat ini masih mengadakan evaluasi, tetapi hasilnya belum diketahui, karena datanya belum ada.

 

Sumber : Business News

 

Subscribe to our feed